i diluncurkan pada Selasa, 1 Puspandoneswrayaan keberagaman yang menjadi kekuatan utama film nasional.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya. “Kita berkumpul dalam rangka launching Festival Film Indonesia 2025. Sebuah festival yang sangat penting, festival yang merupakan puncak dari perayaan Film Indonesia.”
Menbud
menekankan bahwa tahun ini menjadi momentum istimewa karena bertepatan
dengan 70 tahun penyelenggaraan FFI. Menurutnya, sejak dimulai pada
tahun 1955, FFI telah menjadi bagian penting dari ekosistem perfilman
nasional yang terus berkelanjutan.
Menbud
Fadli juga mengapresiasi capaian perfilman Indonesia yang semakin
mendapatkan perhatian di kancah internasional. Dirinya menyebutkan bahwa
partisipasi film Indonesia dalam berbagai festival dunia. “Kita ingin
film Indonesia semakin terlihat di dunia internasional.
Festival
Film Indonesia adalah salah satu wadah penting untuk mendorong lahirnya
film-film terbaik karya sineas tanah air,” ungkapnya.
Festival
Film Indonesia selama ini menjadi barometer perkembangan industri film
di Indonesia sekaligus bentuk penghargaan tertinggi bagi karya dan insan
film. Tahun ini, FFI diharapkan bukan hanya menjadi ajang penghargaan,
tetapi juga sarana konsolidasi ekosistem perfilman untuk meningkatkan
daya saing di tingkat global.
Dalam
kesempatan ini, Ketua Umum Komite FFI 2025–2026, Ario Bayu,
menyampaikan optimisme atas perkembangan film nasional. “Melihat
perkembangan perfilman Indonesia dalam setahun terakhir benar-benar
membanggakan. Kita menyaksikan peningkatan kualitas
luar
biasa, baik dari segi cerita maupun teknis, dan hadirnya keberagaman
genre. Kemunculan genre animasi dengan capaian barunya menandai babak
menjanjikan bagi industri kita. Saya berharap FFI tahun ini menjadi
momen selebrasi sekaligus refleksi bahwa kita sedang berada di jalur
yang tepat menuju industri film yang makin kuat, inklusif, dan berdaya
saing di kancah global,” jelas Ario Bayu.
Ario
Bayu juga menekankan semangat kolaborasi dalam penyelenggaraan tahun
ini. “FFI tidak hanya menjadi ruang apresiasi, tetapi juga momentum
strategis untuk menguatkan sinergi antar lembaga dan asosiasi profesi
perfilman. FFI didukung penuh oleh kolaborasi lintas instansi, baik
Kementerian Kebudayaan RI, Badan Perfilman Indonesia, asosiasi profesi,
komunitas film, maupun lembaga terkait lainnya, demi ekosistem perfilman
Indonesia yang
lebih kuat dan berkelanjutan,” tambahnya.
Hadir
turut memberikan sambutan, Ketua Bidang Penjurian FFI 2025, Budi
Irawanto, menjelaskan penyempurnaan sistem penjurian yang dilakukan
tahun ini. “Esensi sistem penjurian tetap mengkombinasikan penilaian
kuantitatif dan kualitatif yang mendudukkan film, baik sebagai produk
industri yang populer maupun karya budaya. Penyempurnaan tahun ini
dilakukan berdasarkan evaluasi pelaksanaan sebelumnya, hasil FGD dengan
pemangku kepentingan pada 2024, serta penyesuaian agar lebih efektif dan
adaptif,” ujar Budi Irawanto.
Dalam
peluncuran ini juga diperkenalkan struktur Komite FFI 2025–2026 yang
terdiri dari Ketua Bidang Penjurian, Budi Irawanto; Ketua Bidang
Program, Prilly Latuconsina; Ketua Pengembangan Usaha dan Pemasaran, Ein
Halid; Kepala Sekretariat, Aryani Lydia; Ketua Bidang Keuangan,
Rahajeng Paramesrani; Humas Penjurian, Michael Ratnadwijanti; dan Ketua
Bidang Kreatif, Rangga Djoned.
Dalam sesi tanya jawab, Prilly Latuconsina menuturkan salah satu program unggulan dari Road to FFI tahun lalu adalah Goes to Campus, yakni kegiatan roadshow ke
berbagai kampus di Indonesia. "Kita keliling kampus karena ingin
memperkenalkan sejarah Festival Film Indonesia, kegiatannya, dan
film-film yang masuk dalam festival ini," jelasnya. Ia menambahkan bahwa
antusiasme mahasiswa terhadap film Indonesia sangat besar, bahkan data
penonton film Indonesia pun menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Tahun
ini, Prilly mengumumkan bahwa FFI akan tetap melaksanakan tur, tetapi
dengan pendekatan yang berbeda. "Kalau tahun lalu kami keliling kampus,
tahun ini kami akan berkeliling ke festival-festival lokal di berbagai
daerah," kata Prilly. Ia menegaskan pentingnya film sebagai identitas
budaya dan FFI berkomitmen menjadi wadah bagi para pembuat film daerah
untuk menunjukkan karya-karya mereka yang kaya akan budaya lokal.
Prilly
juga menambahkan bahwa FFI akan berkolaborasi dengan festival lokal dan
menghadirkan berbagai program, seperti dialog inspiratif bersama
tokoh-tokoh yang telah menorehkan prestasi di FFI. "Kami ingin
menginspirasi anak-anak muda agar semakin yakin untuk terjun ke industri
film dan membuka jalan bagi generasi muda Indonesia untuk terus
berkarya," ujar Prilly.
FFI
2025 resmi membuka pendaftaran karya film dan kritik film mulai 1 Juli
hingga 31 Agustus 2025. Seleksi dan penjurian akan berlangsung pada 1
September sampai 31 Oktober 2025. Pengumuman nominasi direncanakan pada
Oktober 2025, sedangkan Malam Anugerah Piala
Citra FFI akan digelar pada November 2025.
Dua
publik figur, Sheila Dara dan Ringgo Agus Rahman, juga diumumkan
sebagai Duta FFI 2025, yang diharapkan mewakili semangat inovasi dan
keberagaman sinema Indonesia. Selain itu, program Road to FFI akan kembali digelar bekerja sama dengan festival dan komunitas film daerah untuk mendekatkan FFI kepada masyarakat.
Acara
peluncuran dihadiri oleh Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan,
dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra; Staf Khusus Menteri Bidang
Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Annisa Rengganis; Staf Ahli
Menteri Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan, Anindita Kusuma Listya;
Staf Khusus Menteri Bidang Hukum dan Kekayaan Intelektual Kementerian
Kebudayaan, Putri Woelan Sari Dewi; Direktur Film, Musik, dan Seni,
Syaifullah Agam; Komite FFI 2025–2026; perwakilan Badan Perfilman
Indonesia; asosiasi profesi perfilman; komunitas film; perwakilan
Plataran Indonesia; serta rekan-rekan media cetak, televisi, dan daring.
Di
akhir sambutannya, Menteri Kebudayaan menyampaikan harapannya agar FFI
2025 dapat menjadi representasi keberagaman budaya bangsa dan inspirasi
tanpa batas bagi sinema Indonesia.
“Keberagaman
adalah bagian tak terpisahkan dari ekspresi budaya bangsa. Semoga
dengan tema ‘Puspawarna Sinema Indonesia’ ini, menjadikan FFI sebagai
wadah yang merayakan kebhinekaan, menyediakan ruang yang inklusif bagi
sineas, serta semakin memperkuat ekosistem perfilman nasional,” tutup
Menteri Kebudayaan.
Komentar
Posting Komentar